Monday, March 21, 2016

Orang Lemah yang Sombong

Hari ini seperti biasa saya mengantar anak sekolah. Karena berangkat agak siang maka sekolah sudah mulai ramai. Berhubung jalan depan sekolah sempit, hanya cukup buat papasan 2 mobil dengan posisi mepet maka terjadilah kemacetan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Ada seorang tukang becak duduk santai di atas becaknya di pinggir jalan menghalangi jalannya mobil dan botor sehingga memperparah kemacetan. Dia duduk dengan santainya tanpa menghiraukan kemacetan yang terjadi, padahal di dekat jalan tersebut ada sebuah gang yang sepi tempat di mana dia bisa memarkir becaknya. Dia tetap berada di tempatnya seakan berkata "Ini kan tempatku, dari dulu aku juga di sini, ngapain aku harus pindah, biarin aja jalanan macet".

Banyak kejadian serupa dengan hal tersebut di sekitar kita. Becak yang menerobos jalan sembarangan di antara mobil-mobil dari arah berlawanan, atau sepeda motor yang menyerobot jalan sembarangan. Seakan-akan orang yang lemah boleh melanggar hukum, boleh berbuat seenaknya, boleh sombong.

Saya kemudian tersadar, selama ini juga telah melakukan hal yang sama. Kadang-kadang karena tak sabar dengan ibu-ibu yang mengendarai motor di depan kita, biasanya kita geber motor kita dan memotong jalannya dengan sombong. Mungkin Tuhan masih sayang sama kita sehingga selamanya akan tetap dikasih motor, karena kalau dikasih mobil nanti akan bertambah sombongnya.

Sama seperti tukang becak yang sombong tadi mungkin Tuhan akan selamanya memberi rejeki dengan jalan mengayuh becak karena bisa jadi jika diberi rejeki lebih akan bertambah sombong.

Kita harus ingat bahwa sungguh tak pantas sedikit pun bagi kita untuk sombong. Jika saja Tuhan berkehendak "memijit" satu saja syaraf kita yang vital maka akan hilanglah semua kesombongan kita.

No comments:

Post a Comment