Monday, September 12, 2016

Sisir Istri & Tali Jam Suami


Alkisah, hiduplah seorang suami yang sangat miskin bersama istrinya. Untuk makan pun hanya bisa satu kali dalam sehari, itu pun satu lauk dan mereka makan bersama. Namun walau hidup mereka terlihat sulit, pasangan suami istri itu  selalu terlihat bahagia, mereka sangat sopan kepada tetangga dan selalu bertutur kata secara lembut dan hati-hati. Suatu sore, sang istri meminta dibelikan sisir untuk rambutnya yang panjang agar terlihat rapi.


Sang suami memandangnya dengan sedih dan berkata: “Aku belum bisa memenuhi permintaanmu, bahkan untuk jam tanganku saja aku belum bisa membeli talinya, Tapi jika kamu sangat membutuhkan itu, aku akan berusaha membelikan apa yang kamu mau. Bersediakah kamu untuk bersabar?” Tanya sang suami sangat sopan dan lembut.

Sang Istri pun tidak marah, apalagi membantah. bahkan tampak senyum di wajahnya sambil berkata “ Tak apa suamiku, Aku tidak terlalu membutuhkan itu, aku masih bisa merapikan rambut ku dengan jemari tangan. Lagian Aku kan memakai kerudung. Tak perlu kau bertanya bersedikah aku untuk bersabar, karena sabar itu sebuah keharusan. Bukankah Allah mencintai Hamba-Nya yang bersabar? Walau terkadang sabar itu sulit, tapi itu sebuah keharusan dan Aku ingin kita dicintai Allah.” Jawab sang istri, membuat sang suami terharu dan memeluknya.

Keesokan harinya, setelah selesai dari pekerjaannya sebagai seorang buruh dipabrik kerupuk, sang suami pergi ke pasar dan menjual jam tangannya yang tanpa tali itu dengan harga murah. Kemudian membeli sisir permintaan istrinya. Sang suami sangat bersyukur sekali karena Alhamdulillah ada yang mau membeli jam tangan tanpa tali miliknya. Sang suami cepat pulang karena ingin langsung menyisiri rambut istrinya.

Ketika sampai di rumah sore hari sambil membawa sisir yang dibelinya itu, ia melihat rambut istrinya sudah sangat pendek sekali, dan dilihat tangan istrinya memegang tali jam tangan (rupanya sang istri memotong rambutnya dan menjualnya untuk membeli tali jam tangan). Lalu keduanya saling memandang dengan air mata yang bercucuran. Suasana hening sejenak, air mata merekapun tak mampu mereka bendung. Sang suami memeluk istri dengan erat, “Maafkan aku” Kata sang suami.

Bukan karena apa yang mereka lakukan sia-sia, tapi karena keduanya merasa saling mencintai. Keduanya sama-sama ingin memenuhi apa yang diinginkan satu sama lain, hingga mengorbankan dari apa yang mereka miliki.

Ingatlah selalu…
Bahwa mencintai/dicintai seseorang itu harus berusaha membahagiakannya dengan banyak cara, bahkan jika hal itu harus melepas sesuatu yg sangat berharga...
Karena cinta sejati bukanlah pada kata-kata tetapi pada perbuatan.

From The Gift of the Magi
O. Henry's classic short tale of giving and receiving.
The two are overcome with love as they realize they have sacrificed their most prized possessions for one another.

------ oo0oo ------

To love is nothing

To be loved is something
but to love and to be loved by the one you love, that is everything!

No comments:

Post a Comment